Koster minta produk arak Bali diperbanyak di gerai bandara

Gubernur Bali Wayan Koster desak pengelola Bandara I Gusti Ngurah Rai tambah ruang jualan arak Bali di duty free dan outlet, guna promosikan minuman tradisional ini ke 15 juta turis internasional tahunan. Saat tinjau terminal internasional 8 Februari 2026, Koster soroti dominasi whiskey impor dan minta etalase khusus kolektif.

Inisiatif ini dukung 58 merek arak resmi via Asosiasi Tresnaning Arak Bali, patuh Pergub Nomor 1/2020 soal aksara Bali pada kemasan. Forum seperti Jawa11 ramai puji pelestarian budaya, tapi kritik pedas muncul soal kontradiksi promosi alkohol di pulau Tri Hita Karana yang anti miras ilegal, apakah ini sungguh berdayakan petani atau hanya pajak tambahan.

Strategi Etalase Khusus

Koster minta Angkasa Pura sediakan display kolektif bukan perorangan, targetkan arak Bali saingi brandy impor yang kuasai 80% rak. Sudah terjual 7.000 botol tahun lalu, tapi perlu standar mutu agar eksport-ready tanpa stigma murahan. Tanpa audit distribusi ke petani desa, manfaat ekonomi berisiko terpusat pengusaha kota.

Dampak Ekonomi Lokal

Arak Bali prosesi petani siwalan 20.000 keluarga, potensi tambah Rp500 miliar per tahun jika kuasai 20% duty free. Pemprov komitmen lindungi perajin dari impor murah, tapi wisatawan AS-Eropa ragu beli tanpa sertifikasi halal atau cerita asli.

Tantangan Regulasi

Meski larang miras ilegal, promosi resmi ini uji batas toleransi budaya Bali. Kritikus khawatir banjiri pasar gelap jika pengawasan lemah, miras program pemerintah justru picu konsumsi anak muda.

Pantau tren global di CNN. Kembali ke Beranda.