Kementerian Perdagangan (Kemendag) catat program UMKM BISA Ekspor hasilkan transaksi Rp2,27 triliun atau US$134,87 juta sepanjang 2025 melalui 622 business matching di 33 negara, fasilitasi 1.217 UMKM masuk pasar global.
Program ini libatkan pitching dan pertemuan langsung dengan buyer, dominasi produk makanan-minuman dan fesyen, dengan 70% peserta UMKM pemula. Diskusi di Jawa11 ramai puji pencapaian ini, tapi kritik tajam soroti gap antara “potensi transaksi” dan realisasi ekspor nyata yang historis hanya 40%, karena UMKM kewalahan logistik dan sertifikasi.
Strategi Business Matching
Ditjen PEN gelar 399 sesi pitching dan 223 pertemuan langsung, hasilkan purchase order stabil ke Taiwan, AS, Timur Tengah. Dirjen Fajarini Puntodewi klaim kontribusi UMKM ekspor naik ke 15,7% dari total nonmigas, tapi analis nilai angka ini inflated karena hitung MoU bukan kontainer kirim.
Dampak Ekonomi Riil
UMKM naik kelas tambah devisa US$87 juta semester I saja, tapi tantangan rantai pasok dingin dan kemasan internasional hambat skala. Kritikus khawatir euforia data tutupi fakta 80% UMKM mandek di tahap sampling buyer.
Tantangan 2026
Target Kemendag 9% growth ekspor UMKM ambisius tanpa insentif ekspor dan pelatihan AME intensif. Tanpa konversi 70% potensi jadi shipment aktual, program ini berisiko jadi pencapaian statistik semata.